Menetap Sebentar di Satu Kota
Perjalanan lambat bermula dari satu keputusan kecil: memilih satu kota, lalu tinggal cukup lama sampai jalannya terasa hafal. Tiga hari pertama biasanya masih sibuk dengan tempat yang ramai. Setelah itu ritme berubah. Pasar pagi jadi lebih menarik daripada tugu, dan warung yang sama didatangi dua kali karena penjualnya mulai hafal pesanan.
Penginapan sebaiknya dipesan mingguan; tarifnya kerap lebih ringan daripada harian, dan dapur kecil membuat sarapan tidak lagi bergantung pada jam buka kafe. Satu kartu transportasi umum, satu peta yang bisa dibaca tanpa sinyal, dan satu buku catatan sudah cukup sebagai pegangan. Yang paling menentukan justru kesediaan untuk tidak mengejar apa-apa. Lewat cara ini, satu kota memberi lebih banyak daripada lima kota yang disinggahi sekilas.